Kalah

H : maap ya blm menang, tp thx bgt lho supportnya

I : ihh uda bisa lolos sampe tahap ini aja uda keren sii


Awalnya gw gak ngerti, kenapa dia minta maaf? Memang dia gak juara satu, tapi at least dia lolos nasional dan hey, itu bukan sesuatu yang mudah diraih. Dia sudah melalui perjalanan panjang, pembekalan berminggu-minggu, training ini itu. Lalu hasilnya sudah keluar. Dia dan salah satu rekan mewakili wilayah, mereka menempati nominasi nasional. Dapet hadiah jalan-jalan, dapet uang saku, terlebih pengalaman yang berkesan dan teman-teman baru. Tapi kenapa rasanya, itu seperti kekalahan telak?

Orang seperti gw gak akan ngerti. So, i asked him, why? 

Then he said, "Gak ada yang akan ingat juara 2. Gw datang untuk menang tapi mungkin salah juga, gw gak menyiapkan kekalahan. Gw hancur banget waktu nama gw gak dipanggil. Di sepanjang perjalanan, gw cuma bisa merenung dan terus bertanya-tanya sama Tuhan. Tuhan tau akan sehancur apa gw kalau kalah, tapi kenapa Dia membiarkan itu terjadi?"

Saat itu gw tau, he feels sorry for himself.

Mungkin memang dia merasa menyesal tidak bisa membawa nama cabang untuk jadi juara. Namun, terlebih lagi dia menyesal kenapa dia tidak bisa membawa pulang trophy yang tinggal di depan mata itu? Apa yang kurang? Apa yang belum dia lakukan atau, apa yang dia lakukan sehingga hasilnya jadi seperti ini? Terlebih lagi, dia tidak siap kalah. So far, gw melihat dia bukan orang yang sombong, tapi gw mengerti betapa harapan yang besar ditaruh di pundaknya. Semua orang menjagokan dan mendukungnya. Tak heran dia merasa seperti itu. Dan ketika hasilnya tidak sesuai, seumpama rumah yang dibangun susah payah, hancur begitu saja diterjang gempa.

Apapun yang teman-temannya katakan untuk menghibur dia memang gak akan mempan. But time heals, like always. Dia pelan-pelan mulai menerima semuanya. Mungkin ini cara agar ia bisa sharing mengenai beratnya kekalahan, mungkin ini cara agar ia bisa bertemu dengan teman-teman dan enjoy dengan perjalanannya. Mungkin ini caranya agar jika suatu hari ini dia diminta untuk bercerita, ia bisa menceritakan kisahnya dengan lengkap, bukan hanya seperti apa rasanya menang, tapi juga saat kalah. Dan mungkin, ini caranya agar dia belajar bahwa kalah itu tidak enak. Jadi ketika ia menghadapi pertandingan lagi, ia akan menambahkan dua bahkan tiga kali lipat ke dalam usahanya untuk menang. Karena kalau tidak, bagaimana ia bisa tau rasanya?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup

Klasik

Desember