Postingan

Tigapuluh

Beberapa waktu yang lalu seperti takut menghadapi tiga puluh Namun ternyata, harus banyak bersyukurnya Bersyukur atas pengalaman yang dilalui, bersyukur atas banyak hal yang dialami Bersyukur karena masih bisa merasakan umur yang baru Bersyukur untuk keluarga yang lengkap, walau sering huru hara namun tetap hangat Bersyukur untuk sahabat yang selalu support dan bersyukur bisa merasakan kasih sayang mereka Bersyukur untuk mereka yang jauh tetapi masih mengingat dan saling bertukar cerita Bersyukur untuk teman-teman yang menjadi rekan seperjalanan Bersyukur untuk mereka yang datang, dan yang pergi Bersyukur untuk setiap kehidupan yang mereka jalani baik apa adanya Bersyukur untuk pekerjaan, dan teman-teman yang mengeluh bersama Bersyukur karena masih bisa mendengar cerita dan canda tawa di sela-sela kesibukan Bersyukur untuk orang-orang terdekat. Mereka yang selalu ada saat senang, sehat, susah, sakit. Thanks God. I couldn't ask for more.

Untitled

"Udahan dong ma nangisnya," aku berkata pelan sambil mengusap tangan mamaku. Kuperhatikan wajah mama yang lelah dan semakin kuyu karena belum berhenti menangis sejak keluar dari ruang konsultasi dokter. Melihat mama menangis, membuatku semakin sulit mengendalikan diri. Karena sejujurnya, aku sendiri sedang berusaha menahan tangis. Kata-kata dokter beberapa menit yang lalu masih terus terngiang di otakku. Kata-kata yang membuatku kaget, bingung. Dan semakin takut. Mama hanya mengangguk kecil dan berusaha mengendalikan tangisnya.  "Liat nih tangan kamu, sekarang sama kecilnya kayak mama," akhirnya mama bersuara.  "Gapapa ma, biar makin mirip," aku nyengir sambil memandangi kedua lengan kami yang bersisian.  Sekarang, tanganku memang hampir sekecil tangan mama. Padahal, aku yang biasa, tidak mudah mengalami perubahan berat badan. Paling hanya naik turun satu atau dua kilo saja. Namun, saat melakukan pemeriksaan tadi, angka di timbangan menunjukkan bahwa aku t...

Kalah pt. 2

Hari ini 14 Februari 2024. Valentine's Day dan, Pemilu Day. Sudah berapa kali aku mengikuti pemilu, bertahun-tahun dan pilihanku selalu menang. Kalau ditanya, biasanya aku memilih berdasarkan apa? Jawabanku selalu sama.  Orang yang selalu bercerita mengenai berita hari ini, mengungkapkan fakta-fakta politik, memutar tayangan Youtube mengenai diskusi sejarawan. Papaku. Dan dari dulu, seringkali aku otomatis ter- "brainwash" dengan pilihan papa. Memang aku juga membaca beberapa referensi, terlibat diskusi politik dengan teman-teman main atau rekan kantor. Namun, tak dapat dipungkiri, bagaimana pun sebagian besar dasar pertimbanganku memilih dipengaruhi oleh apa yang sehari-hari aku dengar, aku lihat, dan juga pilihan papa. Dan somehow, pilihan itu selalu tepat. Menang. Sampai hari ini. Baru kali ini, pilihanku tidak menang. Bahkan, tidak ada putaran kedua. Dan aku, samar-samar mendengar hal ini ketika baru bangun tidur. Bertanya sendiri, apakah aku mimpi? Apakah aku salah d...

Kalah

H : maap ya blm menang, tp thx bgt lho supportnya I : ihh uda bisa lolos sampe tahap ini aja uda keren sii Awalnya gw gak ngerti, kenapa dia minta maaf? Memang dia gak juara satu, tapi at least dia lolos nasional dan hey, itu bukan sesuatu yang mudah diraih. Dia sudah melalui perjalanan panjang, pembekalan berminggu-minggu, training ini itu. Lalu hasilnya sudah keluar. Dia dan salah satu rekan mewakili wilayah, mereka menempati nominasi nasional. Dapet hadiah jalan-jalan, dapet uang saku, terlebih pengalaman yang berkesan dan teman-teman baru. Tapi kenapa rasanya, itu seperti kekalahan telak? Orang seperti gw gak akan ngerti. So, i asked him, why?  Then he said, "Gak ada yang akan ingat juara 2. Gw datang untuk menang tapi mungkin salah juga, gw gak menyiapkan kekalahan. Gw hancur banget waktu nama gw gak dipanggil. Di sepanjang perjalanan, gw cuma bisa merenung dan terus bertanya-tanya sama Tuhan. Tuhan tau akan sehancur apa gw kalau kalah, tapi kenapa Dia membiarkan itu terjadi?...

Hedgehogs

Once upon a time, a group of hedgehogs faced the cold winter. As they were feeling cold they decided to move closer to each other and share bodily warmth, Unfortunately, as soon as they crawled together they hurt each other with their sharp spines, and thus the hedgehogs moved away from each other again as the cold weather was more tolerable than being hurt by the spines. So the hedgehogs faced a dilemma  when they kept each other at a distance, they suffered cold, But when they got closer to each other, they experienced and caused hurt. The story shows  the tragic dilemma of human relationships  we seek closeness with others but the closer we become the more likely we seem to get hurt (and hurt others). The beauty of superficial relationships is that the lack of emotional investment in one another (for the most part) exempts us from being hurt by this association, When shared moments and memories are few, when there’s no commitment when any form of interdependence is abs...

Kuatir dan menyusahkan diri

 Lukas 10:41-42 Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya." Tuhan berfirman untuk tidak kuatir.  Tapi kenyataannya, saya kuatir tentang banyak hal. Sangat banyak. Ketika papa saya sakit, saya kuatir. Apakah dana kami cukup untuk berobat sampai papa benar2 sembuh? Apakah penyakitnya parah? Apakah papa saya bisa sembuh seperti sedia kala? Apakah saya dan keluarga bisa bertahan apabila sesuatu yang lebih buruk terjadi? Ketika teman-teman saya merencanakan liburan dan saya tidak bisa ikut, saya kuatir. Apakah saya benar-benar tidak bisa ikut? Apakah saya akan melewatkan hal-hal seru? Itu sudah pasti. Apakah banyak? Apakah yang harus saya lakukan ketika mereka bersenang-senang? Apakah yang harus saya lakukan ketika mereka sama2 memiliki memori menyenangkan itu dan saya tidak? Ketika sahabat saya mengabarkan bahwa i...
 BERITA. BANGSA. DEMOKRASI. Tiga kata yang dulu bisa membuat kita terdengar dua puluh tahun lebih tua. Kenapa? Karena itulah yang ada di benak masyarakat dulu. Segala hal yang berbau kebangsaan itu hanya tontonan tetua dan ahli bijaksana. Saya dulu juga begitu. Ayah saya pecinta berita. TV di rumah cuma satu dan dari berbagai banyak channel yang ada, biasanya hanya ada tiga channel yang sering diputar, yaitu stasiun televisi yang isi siarannya kebanyakan berita. Sebagai remaja yang masih suka nonton sinetron kacangan, saya hampir setiap hari sebal. Gimana nggak? Setiap hari yang ditonton hanya berita, berita, berita (dan berita). Setelah itu, biasanya beliau akan komentar panjang mengenai berita tersebut dan saya hanya akan manggut-manggut atau ke kamar, (pura-pura) belajar. Tapi seiring berjalannya waktu, saya akhirnya mengerti dan mulai peduli. Banyak hal yang mengubah persepsi saya. Semakin dewasa, saya sadar bahwa saya adalah bagian dari negara ini. Saya adalah bagian dari bang...