Untitled

"Udahan dong ma nangisnya," aku berkata pelan sambil mengusap tangan mamaku. Kuperhatikan wajah mama yang lelah dan semakin kuyu karena belum berhenti menangis sejak keluar dari ruang konsultasi dokter. Melihat mama menangis, membuatku semakin sulit mengendalikan diri. Karena sejujurnya, aku sendiri sedang berusaha menahan tangis. Kata-kata dokter beberapa menit yang lalu masih terus terngiang di otakku. Kata-kata yang membuatku kaget, bingung. Dan semakin takut.


Mama hanya mengangguk kecil dan berusaha mengendalikan tangisnya. 

"Liat nih tangan kamu, sekarang sama kecilnya kayak mama," akhirnya mama bersuara. 

"Gapapa ma, biar makin mirip," aku nyengir sambil memandangi kedua lengan kami yang bersisian. Sekarang, tanganku memang hampir sekecil tangan mama. Padahal, aku yang biasa, tidak mudah mengalami perubahan berat badan. Paling hanya naik turun satu atau dua kilo saja. Namun, saat melakukan pemeriksaan tadi, angka di timbangan menunjukkan bahwa aku turun hampir enam kilo. Perubahan yang sangat drastis sejak awal check up beberapa bulan yang lalu. Karena penasaran, aku bahkan sampai tiga kali naik turun timbangan untuk memastikan bahwa angkanya akurat. Hasilnya tetap sama.


Dokter bilang, keadaanku tidak membaik. Dan aku membenarkan itu dalam hati. Walaupun aku masih bisa beraktivitas seperti biasa, tapi kuakui banyak hal yang berubah. Aku yang sekarang, semakin pelupa. Semakin lemot. Aku menjadi susah konsentrasi dan itu berpengaruh terhadap pekerjaanku. Aku yang sekarang, seringkali linglung dan bahkan mudah jatuh. Aku yang sekarang juga mudah terserang penyakit. Terbukti dari dua kali covid dalam dua bulan terakhir ini. Menyebalkan sekali.


Salah satu hal mengesalkan lainnya adalah, aku harus membeli celana baru atau tetap memakai jeans lamaku yang mulai terasa longgar. Dan rambutku, sedikit banyak mulai rontok. Bahkan dokter menyampaikan, ada kemungkinan aku harus memotong pendek rambutku dalam jangka waktu dekat. Aku agak khawatir, sudah bertahun-tahun aku terbiasa dengan rambut panjangku.


Awalnya aku putus asa dengan situasi ini. Kenapa harus terjadi padaku? Tetapi salah satu orang terdekatku bilang, "Lu ga bisa apa-apa lagi, selain bersyukur dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Seenggaknya, lu tau kapan waktu lu tiba, lu bisa susun prioritas lu. Apa aja yang mau lu coba kerjain dan lakukan, sama siapa aja lu mau menghabiskan waktu. Knowing your time, maybe it's a gift. Right?"


Well, dipikir-pikir perkataan itu ada benarnya. Maka, aku mulai menuruti sarannya dan berpikir, aku harus mulai darimana?


Setelah merenung cukup lama mengenai hal apa yang ingin aku lakukan, akhirnya aku terbersit sesuatu. Ada satu hal yang dari dulu membuatku penasaran namun belum sempat aku lakukan.


Bepergian seorang diri. 


Jadi, aku menghubungi sahabatku yang kebetulan berada di kota yang jauh. Dan tidak lama kemudian, tiket keberangkatan sudah kuterima di emailku. Aku ingat, di pagi itu, aku duduk sendiri memeluk tasku sambil menunggu bus datang. Orang-orang disana, beberapa melihatku dengan tatapan heran. Mungkin mereka jarang melihat yang "sejenisku" di kalangan mereka bepergian sendiri dengan naik bus antar kota. Tapi aku tidak peduli. Sedikit takut memang, but it's now or never! Bisa kukatakan cukup impulsif.


Dan, aku sungguh sangat bersyukur atas perjalanan itu. Aku sampai tempat tujuan dengan selamat. Mengunjungi sahabatku, melihat keadaannya di sana. Dia di sana, dalam kondisi yang baik. Mungkin sesekali sedikit kelimpungan dengan pekerjaan ini itu, atau kehidupan barunya sebagai seorang ibu. Kami mengobrol sambil tertawa, sesekali mengenang masa lalu. Berkeliling kota naik motor, sambil mendengar ceritanya tentang hidup di kota yang sepi. Dia masih sama seperti dulu. Kuat dan tegar. Sampai tak terasa, tiga hari sudah berlalu. Rasanya tidak cukup, ingin aku menetap lebih lama.


"Sehat-sehat ya lu, nanti kita main lagi." Hanya itu yang bisa dia katakan melepas kepulanganku, sambil menangis. Aku hanya bisa mengangguk, juga sambil menangis. Aku sedih karena harus berpisah, tapi juga sangat lega melihat dia bahagia dengan keluarga kecilnya. Cepat aku berlalu menuju gerbong kereta yang sudah bersiap melaju. Aku masuk, duduk di bangkuku, masih dengan air mataku yang mengalir deras. Tak pernah kubayangkan akan mengalami ini. Menangis di kereta, sendirian. Benar-benar seperti orang patah hati. 


Aku tertidur cukup lama setelahnya. Ketika terbangun, ternyata langit di luar sudah agak gelap. Aku melirik jam tanganku, waktu menunjukkan hampir pukul enam sore. Hm, sudah setengah perjalanan.


"Enak ya cuacanya," kata ibu separuh baya yang duduk di sampingku. Aku mengangguk sambil tersenyum. Sejujurnya aku sangat suka suasana seperti ini. Di luar hujan, tapi aku aman menikmati rintik di jendela tanpa kebasahan dan takut sakit. "It's time to be a big girl now, and big girls don't cry," suara Fergie masih menemani sisa perjalananku. Aku membuka hp ku dan mulai berpikir, apalagi yang selanjutnya akan kulakukan?



The path that i'm walking, i must go alone

I must take the baby steps 'til i'm full grown, full grown

Fairytales don't always have a happy ending, do they?

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup

Klasik

Desember