Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2012

Klasik

Gambar
Jabat tanganku mungkin untuk yang terakhir kali Kita berbincang tentang memori di masa itu Peluk tubuhku usapkan juga air mataku Kita terharu Seakan tiada bertemu lagi Bersenang-senanglah Karna hari ini akan kita rindukan di hari nanti Sebuah kisah klasik untuk masa depan Bersenang-senanglah Karna waktu ini akan kita banggakan di hari tua... Sampai jumpa kawanku Semoga kita selalu Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan Sampai jumpa kawanku Semoga kita selalu Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan Mungkin diriku masih ingin bersama kalian Mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian

Satu

Banyak orang berpikir, Satu? Mana berasa. Banyak orang berkata, Satu? Mana cukup. Banyak orang merasa, Satu? Saya belum puas! Namun, terkadang satu adalah jawaban yang terbaik. Seringkali sangat pantas kita bersyukur karena hanya memiliki satu. Bersyukur karena memiliki satu ayah dan satu ibu. Bersyukur karena memiliki satu suami. Bersyukur karena memiliki satu hidung dan satu mulut. Bersyukur karena memiliki satu jantung dan satu hati. Bersyukur karena memiliki satu kepala. Bersykur karena memiliki satu Tuhan. Karena ketika orang rakus berkata,  Saya ingin lebih! Maka pertanyaannya adalah : Jika anda diberi lebih,  Bersama ayah dan ibu manakah anda akan tinggal? Bersama suami manakah anda akan bercakap? Diletakkan dimanakah hidung dan mulut lainnya? Diletakkan dimanakah jantung dan hati yang tersisa? Diletakkan dimanakah kepala kedua anda? Dan  Tuhan manakah yang akan anda percaya?

Spesial

Gambar
Desember adalah Natal. Natal adalah...  Perayaan gereja. Kado. Film-film bagus. Kembang api. Pohon Natal. -- Entah kapan terakhir kali pohon Natal pernah terpasang di rumah ini.  Sewaktu kecil, pohon Natal adalah suatu kepastian. Ketika kalender menunjukkan angka terakhir di bulan November, itu artinya semua bersiap untuk menyambut satu properti tahunan. Seorang kepala akan menurunkan pohon Natal dan yang lain akan bersemangat menyambut datangnya pohon lalu kembali berteriak untuk menurunkan hiasan-hiasan natal.  Seorang mahkota akan dengan sigap memeriksa bagian-bagian pohon, mengambil kain basah, dan mulai membersihkan debu-debu yang ada.  Kaki dan tangan tampak tidak begitu peduli dengan pohon Natal. Memang, mereka yang berseru untuk menurunkan pohon itu. Tapi hal itu dilakukan agar mereka dapat menggantungkan sedikit hiasan santa claus, beberapa kaus kaki kain kecil warna merah putih, bola-bola kristal yang terang dan mengkilap, gantungan malaikat yang be...