The First
Kinta menerawang keluar jendela. Lampu jalan masih menerangi kota sibuk ini. Hiruk pikuk sepertinya belum mau pergi meskipun jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Sama seperti suasana hati perempuan berbaju merah muda itu. Dari tadi jantungnya berdentam-dentam tak karuan. Hal yang selalu terjadi setiap ia berada dekat cowo yang sekarang sedang mengemudikan setir di sampingnya, Jo. Wajah tenang dengan dagu runcing dan mata tajam dibingkai alis tipis itu selalu membuatnya merasakan sensasi yang dibencinya tetapi sekaligus juga dinikmatinya. Sesekali, Kinta menghembuskan nafasnya ke kaca jendela dan menggambar beberapa emo kecil dengan jarinya. Hal yang sering dilakukannya ketika ia sedang grogi. “Lu masih aja ya kayak gitu,” Jo memperhatikan Kinta sekilas sembari terkekeh. Cepat-cepat tangan mungil Kinta menggosok “mahakaryanya” dengan asal-asalan. “Nggak kok. Iseng doang.” Jo nyengir. Iseng? Ia sudah melihat Kinta melakukan hal tersebut berpuluh-...