Desember
22 Desember 2004
Arang hitam menemaniku malam ini.
Api yang tadi berkobar dengan semangat sudah tidak tampak lagi. Dan sisa-sisa
arang tertiup oleh angin yang memainkan rambutku. Aku masih bergeming. Menatap
barang-barang hina yang berhasil kulenyapkan. Aku menghela napas. Tiga hari
lagi Natal tiba. Ia seharusnya mempersiapkan diri dengan hal-hal yang lebih
baik. Bukan dengan buku-buku seperti ini.
2 jam yang lalu
“Woi! Balik sini lo!”
Aku mengabaikan teriakan itu.
Napasku sepertinya tinggal sisa beberapa menit lagi tapi aku terus berlari. Kalau
aku gagal, aku tidak akan punya kesempatan lagi untuk melakukan hal ini.
“Kampret! Jangan coba-coba lo
bawa barang gue!,” seorang pemuda tanggung dengan jins bolong berlari kesetanan
mengejarku. Selembar akte di rumahku mengatakan bahwa ia adalah
kakakku. Tapi aku tidak menemukan satupun kesamaan antara aku dengan dirinya.
Aku juga tidak pernah merasakan kasih sayang yang layaknya diberikan oleh
seorang saudara.
Aku hampir pingsan kalau saja
mataku tidak menangkap bayangan bus besar berwarna orange melintas sekitar
sepuluh meter di depanku, seakan menyemangatiku.
Sedikit lagi, sedikit lagi, batinku dalam hati.
Hap. Aku meloncat masuk dan
menoleh ke belakang. Pemuda bertato itu masih mengejarku. Mulutnya berkomat-kamit
dan mukanya memerah. Aku yakin ia sedang mengeluarkan sumpah serapah. Beberapa
detik kemudian, ia tampak semakin kecil dan semakin jauh. Aku menghela napas
lega.
“Neng, duduk neng. Ntar jatoh
jangan salahin orang,” kenek bus menunjuk ke satu-satunya bangku yang tersisa
setelah menerima beberapa receh duitku.
Aku mengangguk dan melangkah
hati-hati. Buku-buku yang kubawa masih aman dalam pelukanku sampai aku
menghempaskan pantatku ke bangku itu.
Aku melihat buku-buku di
pangkuanku dengan jijik. Seharusnya tadi
aku memasukkannya ke dalam kantong plastik hitam, pikirku setengah
menyesal.
“Ya ampun, anak muda jaman
sekarang. Udah berani-beraninya baca majalah porno. Gak malu apa ya. Sampe
dipamer-pamerin segala,” ibu setengah baya di sampingku mulai mencibir ketika
matanya menangkap sesosok tubuh molek dengan pakaian dalam warna merah
tergambar di majalah terdepan yang kupegang.
“Ini bukan punyaku,” aku menjawab
pelan, merasa perlu membela diri. Majalah-majalah itu kudekap lagi. Jangan
sampai seisi bus ini menyadari barang apa yang kubawa.
“Maling mana mau ngaku. Penuh
dong penjara,” mulut sadisnya masih saja berkicau. Aku jadi bertanya-tanya. Ibu
macam ini terlihat terpelajar. Tetapi perilakunya lebih mirip seperti ibu-ibu
tukang gosip dengan daster dan dandanan super tebal yang biasa kulihat di TV.
Aku diam saja. Tidak ada gunanya
berbicara dengan orang seperti ini.
“Grogol. Grogol. Grogol. Yo naik
bu, naik. Grogol. Grogol,” suara cempreng itu kembali terdengar. Aku buru-buru
turun.
“Eh, dek. Pemantiknya jatoh nih,”
Aku berbalik ke belakang. Tangan
kenek itu terulur sambil memberikan sebuah pemantik kepadaku.
“Oh, makasih,” sahutku setengah
berteriak karena bus itu sudah melaju lagi.
Aku menatap benda yang sekarang
berada di genggamanku itu sambil tersenyum.
Ah, ceroboh sekali aku ini. Kalo tadi sampai hilang, dengan apa aku
menjalankan misiku hari ini?
23 Desember 2004
“Wah, tumben banget kamu
pagi-pagi gini uda bangun?” Tante Sarah mengelus pelan rambutku. Hm, belum tau
aja dia apa yang sudah kulakukan pagi ini.
“Hmm… Wangi apa ini?”
Tuh kan.
“Kamu masak ayam lodeh, Sayang?”
Tante Sarah tersenyum lebar sambil pergi ke arah dapur.
“Moga-moga enak ya, Tante,”
kataku harap-harap cemas saat melihat panci berisi ayam yang terendam kuah itu
sampai di meja makan. Maklumlah, baru kali ini aku memasak sendiri. Semoga
rasanya enak. Paling tidak, yaa nggak buruk-buruk amatlah.
“Kelihatannya sih begitu. Ini
harum banget loh. Perut Tante langsung goyang duyu.”
Sesendok. Dua sendok.
Kuperhatikan dengan teliti raut wajah seorang malaikat yang lima tahun ini
sudah mengurusku dengan penuh kasih sayang. Alisnya mengernyit saat merasakan
kuah ayam menjalari tenggorokannya.
“Gimana? Enak gak, Tante?”
“Enak deh. Karna kamu yang
masak,” Tante Sarah mengerling sambil memberi tanda agar aku ikut
mencicipi masakan baruku itu.
Aku mengecap sedikit dan seketika
itu seluruh ekspresi wajahku seperti hilang kendali.
“Aduh, asin banget!” aku
menjulurkan lidah sambil buru-buru mengambil gelas di sampingku.
“Makanya, lain kali kasih garam
tuh kira-kira dong. Kamu mau buat ayam ala gudang garam?” Tante Sarah tergelak
kencang.
“Ah, Tante. Aku gak tau kalo
ternyata seasin ini,” aku tersipu malu. Sedikit rasa menyesal timbul di hatiku
membayangkan hidanganku akan terbuang sia-sia. “Maaf ya, Tante. Malah bikin
kacau.”
“Eh. No. No. Masakan ini masih
bisa dibikin enak kok. Tunggu sebentar ya.”
Tidak sampai lima menit, Tante
Sarah membawa kembali panci tersebut setelah diberi tambahan bumbu lain di
dapur. Entah ramuan apa yang dipakai, tapi yang jelas rasanya seribu kali lebih
enak dari sebelumnya.
“Woa, kok bisa?” aku mengerjap
kagum setelah mencicipi masakan yang telah disulap itu.
“Bisa dong,” Tante Sarah bertepuk
tangan bangga. “Nanti kapan-kapan Tante ajarin ya.”
Aku hanya tersenyum.
Entahlah.
Apakah masih akan ada “kapan-kapan” untukku?
Entahlah.
Apakah masih akan ada “kapan-kapan” untukku?
24 Desember 2004
Aku harap nyeri di dadaku segera
menghilang. Dan bumi tidak lagi berputar secara memusingkan seperti ini. Aku
berada di atas rerumputan yang lembut, tetapi rasa sakit di tubuhku tidak berkurang
sedikit pun. Terbayang di benakku bagaimana nasib Tari bila aku tidak
menyerahkan semua hartaku kepadanya tadi siang. Memang tidak benar-benar
banyak, tapi setidaknya bisa membantu mengurangi penderitaan yang ia rasakan.
Buku kecil dengan cover hijau
cerah masih setia menemaniku berbaring menatap awan kelabu sore ini. Kubuka
buku itu. Tampak beberapa tulisan tanganku dan tanda centang di sampingnya.
- 13
Januari 2001
Bilang sama Kenta kalo aku suka dia.
Bilang sama Kenta kalo aku suka dia.
- 14
Januari 2001
Bangun pagi buat bikin bekal tambahan Kenta.
Bangun pagi buat bikin bekal tambahan Kenta.
- 15
Januari 2001
Belajar untuk ulangan lusa. No TV dan gadget selama 4 jam.
Belajar untuk ulangan lusa. No TV dan gadget selama 4 jam.
- 16
Januari 2001
Ngaku ke ibu perpus kalo aku yang ngilangin CD Winter Sonata.
Ngaku ke ibu perpus kalo aku yang ngilangin CD Winter Sonata.
Aku tersenyum miris. Dulu, misi-misi yang kujanjikan adalah hal-hal yang cukup mudah. Namun, sebulan terakhir ini aku berusaha meningkatkan kualitasnya. Melihat kondisi tubuhku yang semakin memburuk, sepertinya aku harus bertaruh lebih besar untuk hidup. Aku takut Tuhan menganggap aku tidak serius meminta tambahan umur pada Nya. Entah manjur atau memang hanya kebetulan, namun setiap misi yang kubuat untuk satu hari ke depan berhasil membuatku bertahan hidup.
25 Desember 2004
“Maaf… Maaf…,” hanya kata itu
yang bisa kuucapkan. Lalu aku berlari menembus kerumunan orang, berharap Kevin
tidak dapat menemukanku.
Mungkin ini terdengar klise. Dan
tampak seperti di film-film. Tapi aku baru saja memutuskan kekasihku yang setia
menemaniku dua tahun terakhir ini. Dulu aku tidak mengerti. Mengapa orang yang
sakit parah akan berpura-pura melakukan kesalahan dan memutuskan hubungan
dengan orang-orang yang disayanginya. Mengapa orang yang sekarat akan berlagak
sok pahlawan dengan membuat diri mereka tampak buruk di hadapan orang lain.
Agar orang lain dapat melanjutkan hidupnya dengan lebih tenang? Atau agar yang
ditinggalkan tidak terlalu merasa sedih dan kehilangan?
Aku tidak tau.
Tapi yang jelas, inilah hal yang
menurutku tepat untuk aku lakukan.
Aku berlari sampai tubuhku
menolak untuk berlari. Aku berakhir terhempas di sudut gang yang sepi. Kuarahkan
pandangan ke bayang-bayang awan sambil memikirkan misi apa yang akan kulakukan
esok hari. Bila nafasku masih ada tentunya. Seketika tampak beberapa bocah
berlarian mengejar layang-layang. Tanpa sengaja mereka menabrak sebuah keluarga
utuh berpakaian bagus dan membawa bungkusan bertulisan “Merry Christmas”.
Ah, aku ingat. Ini hari Natal.
Ngomong-ngomong soal Natal, pernah
suatu kali aku berharap salju akan turun di tanah ini. Tapi sepertinya tidak
mungkin. Atau, mungkin di atas sana aku dapat merasakan butiran putih itu? Aku
menggigil. Mataku semakin meredup. Udara di sekitarku terasa semakin dingin. Penglihatanku
semakin memburam. Dan akhirnya, gelap.
Komentar
Posting Komentar