Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2017

The First

Gambar
Kinta menerawang keluar jendela. Lampu jalan masih menerangi kota sibuk ini. Hiruk pikuk sepertinya belum mau pergi meskipun jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Sama seperti suasana hati perempuan berbaju merah muda itu. Dari tadi jantungnya berdentam-dentam tak karuan. Hal yang selalu terjadi setiap ia berada dekat cowo yang sekarang sedang mengemudikan setir di sampingnya, Jo. Wajah tenang dengan dagu runcing dan mata tajam dibingkai alis tipis itu selalu membuatnya merasakan sensasi yang dibencinya tetapi sekaligus juga dinikmatinya. Sesekali, Kinta menghembuskan nafasnya ke kaca jendela dan menggambar beberapa emo kecil dengan jarinya. Hal yang sering dilakukannya ketika ia sedang grogi. “Lu masih aja ya kayak gitu,” Jo memperhatikan Kinta sekilas sembari terkekeh. Cepat-cepat tangan mungil Kinta menggosok “mahakaryanya” dengan asal-asalan.  “Nggak kok. Iseng doang.” Jo nyengir.  Iseng?  Ia sudah melihat Kinta melakukan hal tersebut berpuluh-...

Desember

22 Desember 2004 Arang hitam menemaniku malam ini. Api yang tadi berkobar dengan semangat sudah tidak tampak lagi. Dan sisa-sisa arang tertiup oleh angin yang memainkan rambutku. Aku masih bergeming. Menatap barang-barang hina yang berhasil kulenyapkan. Aku menghela napas. Tiga hari lagi Natal tiba. Ia seharusnya mempersiapkan diri dengan hal-hal yang lebih baik. Bukan dengan buku-buku seperti ini. 2 jam yang lalu “Woi! Balik sini lo!” Aku mengabaikan teriakan itu. Napasku sepertinya tinggal sisa beberapa menit lagi tapi aku terus berlari. Kalau aku gagal, aku tidak akan punya kesempatan lagi untuk melakukan hal ini. “Kampret! Jangan coba-coba lo bawa barang gue!,” seorang pemuda tanggung dengan jins bolong berlari kesetanan mengejarku. Selembar akte di rumahku mengatakan bahwa ia adalah kakakku. Tapi aku tidak menemukan satupun kesamaan antara aku dengan dirinya. Aku juga tidak pernah merasakan kasih sayang yang layaknya diberikan oleh seorang saudara. Aku hampi...