Hidup
Ada yang bilang, hidup itu seperti roda. Terus berjalan, berputar, dan akhirnya menempatkan kita di satu sisi. Di atas atau di bawah.
Ada yang bilang, hidup itu seperti buku. Menjalani lembar demi lembar, mengikuti alur tanpa tahu akan berujung pada kisah yang mana.
Ada yang bilang hidup itu seperti rajutan. Terus berjalan mengikuti pola yang sudah ditakdirkan. Tusukan-tusukan membuatmu sakit. Namun, pada akhirnya semua bermuara kepada keindahan.
Ada yang bilang, hidup itu seperti tuts piano. Ada hitam, ada putih. Ada masa kelam, ada masa kejayaan. Dan hanya kita yang dapat mengkombinasikannya, dapat membuat hidup ini jadi lebih indah.
Ada yang bilang, hidup itu seperti tuts piano. Ada hitam, ada putih. Ada masa kelam, ada masa kejayaan. Dan hanya kita yang dapat mengkombinasikannya, dapat membuat hidup ini jadi lebih indah.
Ada yang bilang, hidup itu seperti kopi. Pahit. Tapi Tuhan telah memberikan gula untuk menambah nikmat kopi itu sendiri.
Tapi Hidup itu berbeda.
Hidup tidak sama seperti roda. Ketika roda dapat mundur ke belakang, hidup tidak bisa. Mengulangi jalan yang telah dilalui. hidup hanya bisa menengok ke belakang dengan rasa puas atau penyesalan.
Hidup juga bukan seperti buku yang dapat kita lompati halamannya. Lembar demi lembar harus kita jalani. kita tidak bisa melompat dua lembar, tiga lembar, lima lembar, ataupun sepuluh lembar lebih jauh untuk dapat memburu akhir yang kita kejar.
Hidup tidak juga sama seperti rajutan. ketika rajutan itu salah, kita dapat mundur kembali dan memperbaikinya. Dalam hidup, kita hanya bisa meninggalkan bekas tanpa menghapusnya. Memperbaiki keadaan berarti mengganti dengan yang baru namun tetap menyisakan hal yang lama.
Dan selagi kita masih ada dan masih dapat mengurai kata-kata, perlu lah kita syukuri hidup kita. Seburuk apa pun itu. Karena inilah hidup. Ketika hanya hal indah yang terjadi, maka kebahagiaan tidak akan ada. Ketika hanya hal baik yang kita alami, maka kelegaan tidak pernah muncul. Ketika hanya kesempurnaan yang kita miliki, maka tidak ada pencapaian yang harus kita raih lagi.
So, ketika kita berpikir bahwa hidup itu rumit, susah, tidak menyenangkan, begitu datar, just go with it. Percaya bahwa semua akan indah pada waktunya. Klise. Tapi benar. :*
Hidup tidak juga sama seperti rajutan. ketika rajutan itu salah, kita dapat mundur kembali dan memperbaikinya. Dalam hidup, kita hanya bisa meninggalkan bekas tanpa menghapusnya. Memperbaiki keadaan berarti mengganti dengan yang baru namun tetap menyisakan hal yang lama.
Namun terkadang
Hidup itu seperti tuts piano. Ketika tuts yang salah telah tertekan, kita tidak dapat mengambil nada itu kembali. kita hanya bisa mendengarnya berlalu dan menggantinya dengan nada yang baru.
Hidup itu seperti tuts piano. Ketika tuts yang salah telah tertekan, kita tidak dapat mengambil nada itu kembali. kita hanya bisa mendengarnya berlalu dan menggantinya dengan nada yang baru.
Atau seperti kopi, yang ketika kita meminumnya, rasa itu tidak akan sama lagi dengan kopi-kopi lainnya. bahkan dengan jenis bubuk dan takaran gula yang sama.
Analogi hidup memang berbeda. Cara setiap orang dalam memaknai hidup juga berbeda. Ketika seseorang mengatakan bahwa hidup itu tidak berharga, sesungguhnya ia lupa akan satu hal. Bila hidup itu tak ada, maka semua perkataan yang ia keluarkan, tindakan yang ia lakukan juga tidak akan ada. Ia tidak akan ada untuk berpikir bahwa hidup itu tidak berharga.Dan selagi kita masih ada dan masih dapat mengurai kata-kata, perlu lah kita syukuri hidup kita. Seburuk apa pun itu. Karena inilah hidup. Ketika hanya hal indah yang terjadi, maka kebahagiaan tidak akan ada. Ketika hanya hal baik yang kita alami, maka kelegaan tidak pernah muncul. Ketika hanya kesempurnaan yang kita miliki, maka tidak ada pencapaian yang harus kita raih lagi.
So, ketika kita berpikir bahwa hidup itu rumit, susah, tidak menyenangkan, begitu datar, just go with it. Percaya bahwa semua akan indah pada waktunya. Klise. Tapi benar. :*

Komentar
Posting Komentar