Kenangan
Pagi itu pagi yang cerah, sedikit panas memang. Keluar rumah dan pergi dengan berjalan kaki di hari libur kadang memang menyebalkan. Sekalipun itu pagi yang cerah. Biasanya akan sangat menyebalkan melakukan aktivitas seperti ini. Apalagi dengan tujuan yang penting namun hanya sebentar. Seperti buang buang waktu saja. Tapi kali ini sungguh berbeda.
Berjalan di jalanan yang sudah menjadi bagian dari hidup. Dan baru menyadari hal-hal kecil yang sering terlewatkan. Terkadang, suasana hati yang baik membuat kita memperhatikan segalanya dengan lebih cermat. Tukang bakmi di seberang jalan, pos siskamling dengan tempat duduknya yang tampak rapuh-sambil membayangkan, apa jadinya jika ada yang duduk di sana? Warnet yang terlihat gelap dari luar namun motor-motor yang ada menunjukkan tanda kehidupan. Tanjakan-tanjakan yang tidak tau apa manfaatnya. Ataupun rumah yang telah terjual entah dari kapan. Tidak tahu bagaimana, tetapi ada kesadaran bahwa papan iklan yang dulu ada, sudah tidak terpasang lagi.
Kaki yang melangkah pelan memberi kesempatan bagi otak untuk memikirkan sesuatu yang tidak tahu bagaimana bisa timbul secara tiba-tiba. Sesuatu itu disebut kenangan.
Masih teringat jelas ketika dulu menjalani hari-hari melelahkan namun memberi kesan yang berarti. Ketika ada kemalasan yang menghampiri, tapi mau tak mau tetap harus menjalaninya. Dan ketika menjalaninya, seseorang akan merasa senang dan puas. Sanggar tempat berkreasi, sanggar tempat mengembangkan diri, sanggar tempat mencari teman baru, dan memperbincangkan hal-hal lain. Tempat berkumpul membicarakan salah satu teman kami. semua duduk melingkar, keburukan-keburukan pun keluar. Jika kita bisa menilai sifat seseorang hanya melalui kata-kata, maka itulah saatnya.
Kaca besar dalam ruangan, tempat kami melihat gerak tubuh kami ketika berjalan bagaikan seorang model. Dapat terlihat jelas, bagaimana postur tubuh kami, rambut yang diikat asal, sepatu yang kami kenakan, pandangan mata tertuju lurus ke depan. Suara pelatih terdengar jelas dan lantang. Berjalan seperti itu sesekali memang dibutuhkan. Menumbuhkan rasa percaya diri. Memberikan rasa yang berbeda. Istimewa. Cantik.
Kembali menyusuri jalan dan berbelok ke salah satu gang. Kenangan ini diwarnai dengan bermacam detail terkecil sekalipun. Aroma hairspray sesekali masih tercium. Bahkan ketika membayangkannya, aromanya masih terasa. Begitu dekat. Begitu nyata. Sama seperti dulu. Ketika hairspray disemprotkan, rasanya cukup menyenangkan. Kami menutup mata dan tiba-tiba apapun yang kami cium menjadi wangi. Menikmati dingin yang menyegarkan sambil mengenyahkan pikiran bahwa akan susah merapikan rambut lagi setelah ini.
Bayangan setiap kejadian lucu pun terulang kembali. Ketakutan ketika sepatu tiba-tiba lenyap, padahal beberapa menit lagi tiba saatnya untuk tampil. Atau ketika berdiri dengan kostum pohon natal, peran yang tidak penting tapi dibutuhkan.
Dulu memang tidak pernah terpikirkan. Siapa sangka seseorang akan rindu dengan aroma hairspray yang pernah sangat akrab di hidungnya? Siapa sangka seseorang akan rindu terhadap suatu rasa khawatir hanya karna sebuah sepatu? Dan, siapa sangka seseorang akan rindu untuk berdiri dan menahan keringat demi melakukan hal yang dulu membuatnya malu?
Itulah kenangan. Hal yang terindah sekalipun dan tak ingin dilupakan, malah terkadang hilang. Dan justru sesuatu yang kecil dan sepele, tidak pernah dipikirkan akan diingat kembali, tiba-tiba muncul di dalam memori. Hanya bisa terulang di dalam pikiran dan hati saja. Ketika membayangkannya, warna-warna tidak akan sama lagi seperti keadaan yang sebenarnya. Dan ketika sesuatu mulai dilupakan, manusia akan takut ingatan benar-benar hilang. Manusia akan takut tidak dapat merasakan hal itu kembali. Dan manusia akan berharap, andaikan saya punya mesin waktu. Sepertinya, semua orang pernah menginginkan hal ini. Lalu seseorang akan mencurahkan kenangan-kenangan itu dalam bentuk tulisan, hanya sebagai tanda. Dan mereka tahu, rasanya tidak akan pernah sama lagi.
Berjalan di jalanan yang sudah menjadi bagian dari hidup. Dan baru menyadari hal-hal kecil yang sering terlewatkan. Terkadang, suasana hati yang baik membuat kita memperhatikan segalanya dengan lebih cermat. Tukang bakmi di seberang jalan, pos siskamling dengan tempat duduknya yang tampak rapuh-sambil membayangkan, apa jadinya jika ada yang duduk di sana? Warnet yang terlihat gelap dari luar namun motor-motor yang ada menunjukkan tanda kehidupan. Tanjakan-tanjakan yang tidak tau apa manfaatnya. Ataupun rumah yang telah terjual entah dari kapan. Tidak tahu bagaimana, tetapi ada kesadaran bahwa papan iklan yang dulu ada, sudah tidak terpasang lagi.
Kaki yang melangkah pelan memberi kesempatan bagi otak untuk memikirkan sesuatu yang tidak tahu bagaimana bisa timbul secara tiba-tiba. Sesuatu itu disebut kenangan.
Masih teringat jelas ketika dulu menjalani hari-hari melelahkan namun memberi kesan yang berarti. Ketika ada kemalasan yang menghampiri, tapi mau tak mau tetap harus menjalaninya. Dan ketika menjalaninya, seseorang akan merasa senang dan puas. Sanggar tempat berkreasi, sanggar tempat mengembangkan diri, sanggar tempat mencari teman baru, dan memperbincangkan hal-hal lain. Tempat berkumpul membicarakan salah satu teman kami. semua duduk melingkar, keburukan-keburukan pun keluar. Jika kita bisa menilai sifat seseorang hanya melalui kata-kata, maka itulah saatnya.
Kaca besar dalam ruangan, tempat kami melihat gerak tubuh kami ketika berjalan bagaikan seorang model. Dapat terlihat jelas, bagaimana postur tubuh kami, rambut yang diikat asal, sepatu yang kami kenakan, pandangan mata tertuju lurus ke depan. Suara pelatih terdengar jelas dan lantang. Berjalan seperti itu sesekali memang dibutuhkan. Menumbuhkan rasa percaya diri. Memberikan rasa yang berbeda. Istimewa. Cantik.
Kembali menyusuri jalan dan berbelok ke salah satu gang. Kenangan ini diwarnai dengan bermacam detail terkecil sekalipun. Aroma hairspray sesekali masih tercium. Bahkan ketika membayangkannya, aromanya masih terasa. Begitu dekat. Begitu nyata. Sama seperti dulu. Ketika hairspray disemprotkan, rasanya cukup menyenangkan. Kami menutup mata dan tiba-tiba apapun yang kami cium menjadi wangi. Menikmati dingin yang menyegarkan sambil mengenyahkan pikiran bahwa akan susah merapikan rambut lagi setelah ini.
Bayangan setiap kejadian lucu pun terulang kembali. Ketakutan ketika sepatu tiba-tiba lenyap, padahal beberapa menit lagi tiba saatnya untuk tampil. Atau ketika berdiri dengan kostum pohon natal, peran yang tidak penting tapi dibutuhkan.
Dulu memang tidak pernah terpikirkan. Siapa sangka seseorang akan rindu dengan aroma hairspray yang pernah sangat akrab di hidungnya? Siapa sangka seseorang akan rindu terhadap suatu rasa khawatir hanya karna sebuah sepatu? Dan, siapa sangka seseorang akan rindu untuk berdiri dan menahan keringat demi melakukan hal yang dulu membuatnya malu?
Itulah kenangan. Hal yang terindah sekalipun dan tak ingin dilupakan, malah terkadang hilang. Dan justru sesuatu yang kecil dan sepele, tidak pernah dipikirkan akan diingat kembali, tiba-tiba muncul di dalam memori. Hanya bisa terulang di dalam pikiran dan hati saja. Ketika membayangkannya, warna-warna tidak akan sama lagi seperti keadaan yang sebenarnya. Dan ketika sesuatu mulai dilupakan, manusia akan takut ingatan benar-benar hilang. Manusia akan takut tidak dapat merasakan hal itu kembali. Dan manusia akan berharap, andaikan saya punya mesin waktu. Sepertinya, semua orang pernah menginginkan hal ini. Lalu seseorang akan mencurahkan kenangan-kenangan itu dalam bentuk tulisan, hanya sebagai tanda. Dan mereka tahu, rasanya tidak akan pernah sama lagi.

Komentar
Posting Komentar