Spesial

Desember adalah Natal.
Natal adalah... 
Perayaan gereja. Kado. Film-film bagus. Kembang api. Pohon Natal.

--


Entah kapan terakhir kali pohon Natal pernah terpasang di rumah ini. 
Sewaktu kecil, pohon Natal adalah suatu kepastian. Ketika kalender menunjukkan angka terakhir di bulan November, itu artinya semua bersiap untuk menyambut satu properti tahunan. Seorang kepala akan menurunkan pohon Natal dan yang lain akan bersemangat menyambut datangnya pohon lalu kembali berteriak untuk menurunkan hiasan-hiasan natal. 
Seorang mahkota akan dengan sigap memeriksa bagian-bagian pohon, mengambil kain basah, dan mulai membersihkan debu-debu yang ada. 
Kaki dan tangan tampak tidak begitu peduli dengan pohon Natal. Memang, mereka yang berseru untuk menurunkan pohon itu. Tapi hal itu dilakukan agar mereka dapat menggantungkan sedikit hiasan santa claus, beberapa kaus kaki kain kecil warna merah putih, bola-bola kristal yang terang dan mengkilap, gantungan malaikat yang bersinar dalam putih gading, dan hiasan-hiasan sederhana lainnya. Lalu mereka akan bertengkar, berebut, berlomba menggantungkan ornamen-ornamen itu. Dan mahkota akan berkata, tunggu dulu. Tunggu sampai selesai dibersihkan katanya.

Tidak perlu waktu lama. 
Keluarga sudah sibuk memperindah pohon Natal tersebut. TV memang tidak dimatikan dan suaranya masih terdengar, tetapi semua mata hanya terpusat kepada pohon dan ornamen-ornamennya. Kaki dan tangan terkadang bergantian memilih dahan mana akan digantung dengan ornamen apa. Dan mahkota akan meneliti apakah ada bagian yang rusak sambil sesekali kepala mengusulkan dimana ornamen malaikat bagusnya diletakkan. Lalu mahkota akan mengambil salah satu kristal dan memberikannya kepada kaki keluarga. Si kaki akan bertanya, dimanakah sebaiknya kristal ini diletakkan? Kepala menanggapi, di dahan yang ini. Ia menunjuk salah satu dahan hijau dengan bersemangat. Bagus kan? Maka tangan akan mengangguk dan tersenyum lebar. Bagus. Bagus sekali!

Dan ketika pagi tiba, maka kaki dan tangan akan segera bangun dan sambil mengantuk, mereka menuju kepada suatu tempat yang pasti. 
Bukan. Bukan kamar mandi. 
Mereka menuju suatu tempat yang pasti. 
Pohon Natal.
Lalu mereka akan  duduk dan membuka dua kotak kado yang disandarkan pada batang pohon. Isinya adalah barang yang sama, hanya mungkin warnanya saja yang berbeda. Kemudian mereka akan tertawa dan berkata kepada kepala juga mahkota, Terimakasih! 
Kepala dan mahkota akan menghampiri mereka, memeluk mereka, mencium mereka. 
Lalu kaki akan membungkus kembali kadonya seperti sedia kala. Seperti biasa, tangan mengikutinya. 
Dan mereka akan bersama-sama pergi ke gereja, dengan cinta dan semangat Natal di hati mereka.

Dan ketika mereka pulang, maka kaki dan tangan akan kembali lagi kepada pohon Natal yang masih setia menunggu di ruang tamu mereka. Walau belum berganti pakaian, mereka tidak peduli. 
Kaki dan tangan akan mengambil kado, lalu berfoto bersama. 
Kaki bersama kepala dan mahkota. Tangan bersama kepala dan mahkota. Kepala dan mahkota. Kaki dan tangan bersama mahkota. Kaki dan tangan bersama kepala. Terserah saja. 
Dan mereka akan mengobrol bersama. Dan mereka akan tertawa bersama.

Dan ketika bulan Desember sudah berlalu, pohon itu terkadang masih diingat. Atau mungkin dilupakan untuk ditaruh kembali di tempatnya. Beberapa hari kemudian, keluarga akan menurunkan semua ornamen-ornamen yang tergantung rapi dan menaruhnya di kotak. Dan kepala akan membawa naik pohon itu kembali ke tempatnya. 
Maka keluarga akan berkata dalam hatinya masing-masing. 
Tahun depan kita akan seperti ini lagi. Tahun depan pohon ini akan turun lagi. 
Dan kita akan bersama berfoto lagi.

Tidak tahu kapan kata-kata itu tidak pernah diingat lagi. 
Dan sejak saat itu, sejak tahun pertama pohon tidak diturunkan, maka semuanya berubah. Malaikat tak pernah turun lagi. Tidak ada kilap terang dari kristal cantik warna warni dan tawa besar santa claus tidak tampak lagi. 

Maka kaki dan tangan akan bertanya. 
Kemana pohon itu? Kapan kepala akan menurunkannya? Kapan mahkota akan membersihkannya? Kapan kami bisa kembali menggantungkan kesukaan kami di pohon itu?

Dan kepala akan berkata, 
susah menurunkannya. Terlalu berat dan ribet. 
Lalu mahkota akan berkata, 
susah membersihkannya. Sudah terlalu banyak debu dan laba-laba yang bersarang.


Dan tahun berikutnya datang.


Maka kaki dan tangan akan bertanya.
Kemana pohon itu? Kapan kepala akan menurunkannya? Kapan mahkota akan membersihkannya? Kapan kami bisa kembali menggantungkan kesukaan kami di pohon itu?

Dan kepala akan berkata, 
sudah banyak bagian yang rusak. Saya belum sempat memperbaikinya.
Lalu mahkota akan berkata, 
ya sudah. Nanti-nanti saja.

Lagi. Tahun berikutnya kembali datang.

Pertanyaan yang sama. Terkadang dengan jawaban yang sama. Terkadang dengan jawaban yang berbeda.

Dan tahun-tahun berikutnya datang. 

Namun, tidak ada lagi pertanyaan seperti itu. Maka jawabnya juga sudah pasti tidak ada. 
Dan di tahun-tahun berikutnya, keluarga sudah lupa. Seakan mereka tidak pernah melakukannya.



Pohon itu sederhana. Hiasannya juga sederhana. 
Ornamen yang dipakai bukanlah barang baru dan tidak terlalu banyak.
Warna hijau pohon sudah tampak berbeda dan terlihat sangat palsu. 
Dan lagi, hanya ada beberapa gantungan bintang dan tidak pernah ada yang menggantungkan bintang pada puncaknya. 
Tidak ada yang spesial.

Namun, 
saat hal rutin yang menjadi tidak spesial tersebut berhenti dilakukan, maka ketika hal itu dapat dilakukan kembali, maka rasanya akan berbeda. 
Rasanya seperti.. ada yang spesial.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup

Klasik

Desember