BERITA. BANGSA. DEMOKRASI.
Tiga kata yang dulu bisa membuat kita terdengar dua puluh tahun lebih tua.
Kenapa?
Karena itulah yang ada di benak masyarakat dulu. Segala hal yang berbau kebangsaan itu hanya tontonan tetua dan ahli bijaksana. Saya dulu juga begitu.
Ayah saya pecinta berita. TV di rumah cuma satu dan dari berbagai banyak channel yang ada, biasanya hanya ada tiga channel yang sering diputar, yaitu stasiun televisi yang isi siarannya kebanyakan berita. Sebagai remaja yang masih suka nonton sinetron kacangan, saya hampir setiap hari sebal. Gimana nggak? Setiap hari yang ditonton hanya berita, berita, berita (dan berita). Setelah itu, biasanya beliau akan komentar panjang mengenai berita tersebut dan saya hanya akan manggut-manggut atau ke kamar, (pura-pura) belajar.
Tapi seiring berjalannya waktu, saya akhirnya mengerti dan mulai peduli. Banyak hal yang mengubah persepsi saya. Semakin dewasa, saya sadar bahwa saya adalah bagian dari negara ini. Saya adalah bagian dari bangsa berbendera merah putih ini. Apalagi ketika saya menjalani kegiatan magang saya di salah satu stasiun TV berita (yang juga sering ditonton oleh ayah saya). Ketika itu, ada beberapa kasus yang sedang heboh-hebohnya merebak di negeri kita ini. Mulai dari kasus pesawat yang jatuh dan hilang sehingga menimbulkan banyak korban jiwa sampai berita tentang salah satu masalah terbesar dan terberat yang pernah dialami oleh KPK.
Saya masih ingat ketika itu saya ditempatkan di bagian sosial media dan bertugas untuk mengepost siaran ulang berita di channel Youtube stasiun TV tersebut. Pengalaman pertama saya merasakan secara langsung bagaimana berada di balik layar sebuah stasiun TV. Melihat cuplikan berita terus menerus, mengikuti perkembangan terbaru dari wartawan, mengalami situasi hectic tiba-tiba karena harus breaking news, kerja lembur demi mengurus siaran live di Youtube yang menayangkan persidangan. Semua itu memang membuat lelah dan terkadang bosan apabila harus melihat tayangan yang sama berulang kali. Tapi ternyata, moment-moment itu menciptakan makna dalam hidup saya. Dimana akhirnya saya bisa mengerti, mengapa setiap dari kita, adalah bagian dari negara ini. Setiap kita mempunyai suara, sekecil apapun itu. Mempunyai andil, sesedikit apapun, dalam mengubah pandangan masyarakat, dalam menyampaikan kebenaran kepada siapapun yang menyaksikan. Bahkan, sekalipun seorang wartawan yang “hanya” menunggu di lokasi selama berjam-jam untuk suatu kebenaran.
Saya ingat, pernah salah seorang wartawan magang di sana bercerita kepada saya. Betapa lelah ketika ia, selama lebih dari enam jam, harus menunggu di depan pintu gerbang hanya untuk mendapatkan kepastian mengenai status seorang pejabat negara, jadi tersangka atau tidak? Penantian panjang untuk mendengarkan hasil yang cuma berupa sebaris kalimat tetapi bisa mengubah pandangan masyarakat bahkan hidup seseorang. Saya berpikir, mungkin yang terlihat di TV tidaklah seberapa. Namun, semuanya itu adalah hasil dari perjuangan banyak orang yang mungkin kelihatannya tidak penting. Saya yang awam menemukan hal tersebut sangat menarik. Bahkan saat itu, perubahan cukup besar terjadi dalam diri saya. Salah satunya, ketika pulang, yang saya lakukan adalah dengan semangat mencari ayah saya dan berdiskusi dengannya mengenai berita hari itu, menggebu-gebu. Saya yang dulu sukanya sinetron kacangan, sekarang lebih semangat kalo ngomongin politik. Well, people change.
Satu lagi hal yang saya sadari sangat ikut ambil andil dalam mem “blow up” pemberitaan di negara ini : Sosial Media. Sosial media, sadar atau tidak sadar, semakin menggelitik rasa penasaran dan ketertarikan masyarakat dalam mengikuti perkembangan berita di negara ini. Sekarang, sosial media bukan hanya digunakan untuk menyebarkan gossip, melainkan juga berita. Bukan hanya menyebarkan iklan, tetapi juga petisi-petisi menyuarakan kebenaran. Orang punya banyak cara menjadikan sosial media sebagai suatu alat yang tak terbatas, bahkan kadang tak terkendali. Bagaimana sebuah kabar yang entah benar atau tidak, langsung dapat membuat panik ribuan orang. Banyak juga yang memanfaatkan sosial media sebagai sarana untuk mengungkap sisi lain dari sebuah hal yang serius. Bagaimana kabar politik dapat dijadikan humor oleh beberapa orang. Lihat saja kasus yang dulu pernah jadi pemberitaan yang hot. Ketika semua orang berlomba-lomba membuat meme tentang seorang pejabat negara yang pura-pura sakit. Atau ketika komentar menggelitik diselipkan dalam caption berita mengenai janji-janji salah satu pasangan pilpres dalam pemilu.
Bukan hanya itu, sosial media juga menjadikan kita lebih bersuara di jaman yang sudah sangat menjunjung tinggi demokrasi ini. Yah, mungkin tidak semua. Tetapi, banyak hal bermula dari sana, baik yang buruk maupun yang menginspirasi. Masih segar dalam ingatan saya ketika timeline saya dipenuhi dengan post yang isinya dukungan untuk salah satu pejabat negeri ini. Kira-kira lebih dari setahun yang lalu, kasusnya sangat heboh. Dimana salah seorang pejabat publik yang menurut saya, mencerminkan kejujuran dan keberanian, malah mengalami situasi yang sangat pahit. Begitu banyak orang berlomba-lomba mencurahkan simpati, menuangkan komen, merepost ulang, membuat petisi agar beliau tidak dipenjara. Saya merupakan salah satu yang ikut berpartisipasi. Namun, apabila dipikir-pikir, apakah dengan berkobar-kobar di sosial media, kita dapat mengubah nasib seseorang? Apakah dengan “bersuara” melalui tulisan dapat membangun negara ini ke arah yang lebih baik?
Jawabannya adalah YA, APABILA hal itu disertai juga dengan tindakan. Menyampaikan komen dengan tepat, merepost berita yang benar, menginspirasi orang-orang di sekitar kita melalui sosial media dan juga tindakan nyata dalam kehidupan kita sehari-hari. Menuliskan kata-kata inspirasi memang baik, menuliskan komentar yang membangun itu juga berguna. Tapi apa jadinya bila hanya sekedar kata-kata? Saya juga sedang mencoba membuat bangsa ini menjadi tempat yang lebih baik, mulai dari diri sendiri. Berlaku jujur, belajar untuk tidak korupsi waktu, melakukan banyak hal yang berguna. Mungkin hanya perbuatan-perbuatan kecil. Tapi saya berharap bisa membawa dampak positif setidaknya bagi orang-orang di sekitar saya. Dan tentunya untuk negara ini juga.
Dirgahayu Indonesiaku!
#73yearsandstillcounting
Komentar
Posting Komentar