Kuatir dan menyusahkan diri

 Lukas 10:41-42

Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."


Tuhan berfirman untuk tidak kuatir. 

Tapi kenyataannya, saya kuatir tentang banyak hal. Sangat banyak.

Ketika papa saya sakit, saya kuatir. Apakah dana kami cukup untuk berobat sampai papa benar2 sembuh? Apakah penyakitnya parah? Apakah papa saya bisa sembuh seperti sedia kala? Apakah saya dan keluarga bisa bertahan apabila sesuatu yang lebih buruk terjadi?


Ketika teman-teman saya merencanakan liburan dan saya tidak bisa ikut, saya kuatir. Apakah saya benar-benar tidak bisa ikut? Apakah saya akan melewatkan hal-hal seru? Itu sudah pasti. Apakah banyak? Apakah yang harus saya lakukan ketika mereka bersenang-senang? Apakah yang harus saya lakukan ketika mereka sama2 memiliki memori menyenangkan itu dan saya tidak?


Ketika sahabat saya mengabarkan bahwa ia akan menikah, saya sangat senang. Tapi, sekali lagi, saya kuatir. Bagaimana dengan saya? Kapan waktunya akan tiba?


Salah satu teman pernah berkata, hidup ini bukanlah suatu perlombaan. Jadi alangkah baiknya bila kita tidak membandingkan "seberapa tertinggalnya" hidup kita ini. Saya tau, hal itu benar. Setiap kali kekuatiran menghampiri saya, saya akan kembali berusaha mengingat kata-kata teman saya itu. Tapi apalah daya, sejam kemudian, kuatir itu kembali datang. Saya pergi tidur, dan ketika saya bangun keesokan harinya, saya kembali kuatir.


Belakangan ini, saya kembali susah tidur. Jam 11 sudah mengantuk, tapi saya mendapati diri saya masih terjaga hingga jam 2 pagi. Jeda waktu itu sangat menyiksa. Di saat-saat seperti itu, terkadang saya mencoba untuk "mengobrol dengan Tuhan". Saya minta diberikan kekuatan, saya minta papa saya disembuhkan, saya minta diberi petunjuk mengenai pasangan, saya minta agar saya memiliki kesempatan untuk pergi bersama teman-teman saya. Saya minta ini dan itu. Dan pada akhirnya, saya sadar bahwa saya hanya meminta-minta pada Tuhan. Banyak hal yang saya pinta, tapi apakah benar itu yg saya mau dan saya butuhkan? Bagaimana kalau ternyata, yg saya butuh hanyalah menarik diri sejenak dan berpikir mengenai apa yang benar2 penting dan tidak fana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup

Klasik

Desember