tak lekang oleh waktu

Saat saya memutuskan untuk mengikuti lomba ini, hal pertama yang saya pikirkan adalah bagaimana saya mendapatkan inspirasi untuk dapat memulai tulisan saya. Saya menantikan hari demi hari dimana saya berharap akan ada satu kejadian spesial yang dapat saya alami bersama ibu saya dan saya bertekad untuk menjadikan kejadian itu sebagai bahan tulisan saya.
Hingga sampai pada hari ini, akhirnya saya menyadari bahwa, setiap hari dan setiap kejadian yang saya alami bersama ibu saya adalah sesuatu yang spesial antara kami berdua. Setiap pembicaraan yang kami lakukan, segala macam bercandaan yang terkadang tidak lucu, cerita tentang kehidupan kantor ibu saya, cerita tentang teman-teman saya yang terkadang tidak masuk akal. Terkadang saya berharap saya dapat mengingat semua detailnya walaupun saya tahu itu tidak mungkin bisa saya lakukan.
Dari kecil, ibu selalu menyayangi saya dan kakak perempuan saya. Saya masih ingat suatu kejadian ketika saya masih berada di TK. Saat itu sedang ada perayaan Hari Kartini. Saya dan kakak saya diwajibkan untuk memakai pakaian daerah untuk dipakai ke sekolah kami. Ibu saya akhirnya mencarikan tempat yang menyewakan pakaian-pakaian daerah. Ketika sampai di tempat itu, saya merasa sangat tidak sabar dan ingin segera cepat pulang. Namun, ibu saya tetap sabar dan dengan telaten mencarikan baju daerah yang bagus untuk kami berdua. Ibu juga yang memasangkan konde pada rambut kami berdua di hari perayaan tersebut.
Setelah saya berada di bangku sekolah dasar, semakin banyak kenangan yang saya miliki bersama ibu saya. Ibu selalu membangunkan saya setiap pagi hari. Dulu, ibu selalu menguncir rambut saya sebelum saya pergi ke sekolah. Ibu yang membuatkan sarapan dan membawakan bekal untuk saya. Ibu yang menyiapkan pakaian seragam saya. Ibu yang menyiapkan sepatu saya dan menyuapi saya sambil saya mengikat tali sepatu saya.
Ibu saya selalu memeriksa buku-buku pelajaran yang akan saya bawa ke sekolah, apakah sudah lengkap atau belum. Ibu saya juga yang mengecek pr apa saja yang ada dan harus saya kerjakan dalam agenda saya. Selain itu, ibu selalu membantu saya dalam belajar dan menanyakan soal-soal yang akan menjadi bahan ulangan saya. Beliau juga menjadi penyemangat saya ketika saya mulai menyerah.
Ibu saya sangat perhatian pada saya dan kakak saya. Terkadang bila kami memerlukan sesuatu, ibu pasti akan bersusah payah mencarinya tanpa sepengetahuan kami. Membelikan barang-barang yang kami perlukan, bertanya kepada teman-teman kantornya bahkan kalau perlu meminjamnya. Sering kali saya tidak menyadari semua itu, namun ternyata hal itu sudah berpuluh-puluh kali ibu saya lakukan. Saya hanya menganggapnya sebagai hal yang sepele.
Salah satu pengalaman yang paling saya ingat dari ibu saya adalah ketika saya ditunjuk untuk menampilkan sebuah pementasan tari di sekolah. Pada waktu itu saya dan teman-teman saya sedang berlatih dengan menggunakan salah satu kaset terbaru yang saya miliki. Ternyata di tengah-tengah latihan, kaset itu rusak dan tidak dapat digunakan lagi. Saya dan teman-teman saya sangat panik karena waktu pementasan tinggal sebentar lagi. Ketika ibu saya menanyakan tentang masalah itu, saya malah menjawab dengan ketus dan tidak sabaran. Namun, tak disangka ternyata keesokan harinya ibu saya pulang dari kantor dengan membawa kaset yang sama. Ternyata ibu saya buru-buru meminjam kepada salah seorang teman kantornya. Hal itu membuat saya sangat senang dan juga menyesal karena telah kasar terhadap ibu saya.
Mengingat masa sekolah dasar, hal yang sangat berkesan bagi saya adalah pada waktu itu saya tidak pernah pergi ke salon untuk memotong rambut karena ibu yang selalu memotong rambut saya. Dulu, saya sering bosan dengan model potongan rambut yang hanya lurus rata saja. Saya sering memaksa ibu saya agar memotong rambut saya dengan model terbaru. Namun, ibu saya dengan sabar menjelaskan pada saya bahwa ia bukanlah seorang yang ahli memotong rambut. Tetapi, lama kelamaan saya mulai terbiasa dan menyukai potongan tersebut. Bahkan menurut saya, ibu sangat hebat dalam merapikan dan menata rambut saya.
Ibu adalah sosok yang sangat luar biasa bagi saya. Ia mudah tersentuh tapi tetap tegar dalam menjalani segala cobaan hidup. Saya tau betul, ibu saya adalah orang yang sangat mudah menangis. Terkadang saya suka mencelanya. Hal ini membuat saya menyesal. Sampai pada suatu hari, ibu saya menangis haru ketika menyaksikan saya terpilih sebagai juara umum 10 besar di SMP. Ibu menyembunyikan hal itu, tapi tetap saja saya tahu karena mata ibu terlihat merah dan berair saat mengucapkan selamat kepada saya. Kejadian ini membuat saya sadar bahwa ibu sangat menyayangi saya dan bangga akan saya. Air matanya merupakan salah satu bukti cintanya pada saya yang tak dapat ia ungkapkan dengan kata-kata.
Ibu juga merupakan pribadi yang selalu mengalah. Ia selalu mendahulukan makanan untuk saya dan yang lainnya. Bahkan, terkadang ibu sering berpura-pura tidak suka ataupun sudah kenyang dan memberikan makanan itu kepada kami. Terkadang saya tau akan hal itu, namun karena masih egois saya pura-pura tidak tau saja.
Saya sadar betul bahwa saya sering melukai hati ibu saya. Saya tentu sadar, namun seringkali saya tidak peduli dengan perasaan ibu saya. Saya sering membentaknya, saya sering mengacuhkan nasihatnya, saya sering mengabaikan suruhannya untuk merapikan kamar saya, saya sering mengomelinya ketika saya susah menemukannya karena ibu saya pergi berkeliling supermarket sendiri. Namun, ibu saya tetap sabar dalam menghadapi saya.
Salah satu hal yang saya sukai dari ibu saya adalah beliau sering bercerita tentang bagaimana saya ketika masih kecil. Banyak kisah lucu yang diceritakan olehnya. Mulai dari ketika saya masih belajar berbicara, berjalan atau menggunakan sendok dan garpu untuk makan. Ibu saya juga bercerita bahwa saya dulu sering menangis entah karena terjatuh sehingga ibu saya harus meniup-niup lutut saya yang perih ataupun karena kesakitan setelah gigi saya dicabut. Ibu juga mengatakan bahwa kadang dulu saya menangis saat malam hari sehingga ibu saya tidak dapat tidur karena harus menenangkan saya. Semua cerita tersebut mengingatkan bagaimana saya sangat menyusahkan ibu saya namun beliau tetap menyayangi saya.
Terkadang hal itu membuat saya sering bertanya-tanya, sebesar apakah rasa sayang saya terhadap ibu saya. Saya seringkali tidak sabar terhadap ibu saya. Tidak sabar ketika mengajarinya memakai handphone, menggunakan aplikasi di komputer, atau bahkan ketika ibu saya tidak dapat membaca tulisan yang terlalu kecil karena sudah mulai rabun. Saya sangat sering mengeluh, mengomel, bahkan mencela ibu saya. Tapi saya lupa banyak hal. Ibu saya dengan sangat sabar telah mengganti popok saya, membuang lepehan makanan dari mulut saya ketika saya masih kecil tanpa rasa jijik, mengajari saya berbicara, mengajari saya menulis, mengajari saya pelajaran berhitung, mengajari saya memakai pembalut ketika untuk pertama kalinya saya mendapat menstruasi, dan mengajari beribu-ribu hal yang tidak bisa saya lakukan sebelumnya. Mengingat itu, saya menjadi sadar ternyata banyak hal-hal kecil yang selalu diajarkan ibu saya kepada saya dengan sangat sabar ketika saya masih belum bisa melakukan apa-apa.
Sekarang setelah saya beranjak remaja, makin terasa peran ibu dalam hidup saya. Ibu selalu mencari uang untuk keperluan sekolah saya. Terkadang ibu pulang dari kantor dengan wajah lelah namun senyum tetap menghiasi wajahnya. Ibu tetap menjadi seorang wanita yang hebat, sabar dan penuh kasih sayang. Sementara saya, masih sering menyakiti hatinya. Tak terhingga berapa besar pengorbanan ibu selama ini terhadap saya. Saya sadar, saya masih belum dapat menjadi anak yang baik dan penurut. Saya masih terlalu sering melawan dan membangkang ibu saya. Namun, dari hati yang paling dalam saya tau bahwa saya sangat menyayangi ibu saya. Mungkin saya harus mengatakan pada ibu saya, bahwa saya sangat menyayanginya. Beliau yang telah membesarkan saya hingga saat ini. Saya ingin menjadi anak yang berbakti dan dapat membuat ibu saya bangga dengan saya. Terima kasih ibu atas kasihmu yang tak lekang oleh waktu. J
Komentar
Posting Komentar